Selasa, 22 April 2014

MENYESAL TAK ADA HARAPAN


Ini hari ke-275 semenjak pertama kali divonis kanker mulut. Hari-hari yang penuh dengan penyiksaan fisik dan batin karena penyakit sialan ini. “Hidup segan mati tak mau” itulah prinsip hidupku ini. Makan sudah tak berselera saking perihnya. Hahhh, jangankan makan, berbicara saja sudah seperti orang gagu rasanya. Malahan orang gagu masih lebih beruntung, karena mereka bisa mengeluarkan suara tanpa merasakan sakit, walaupun tidak jelas, lah aku? Bersuara sedikit saja sudah seperih jatuh dari sepeda.
Sampai detik ini, masih aku sesali perbuatan bodohku dulu. Kanker mulut dan penyiksaan- penyiksaan ini hanya karena kebiasaan kecilku itu. Walau sebenarnya tidak bisa dibilang kebiasaan kecil juga karena sungguh rokok itu ‘nagih’. Tapi kalau tahu begini jadinya, harusnya aku rela dikurung dan diikat di kamar tidurku agar aku berhenti merokok. Setelah dipikir- pikir, apa enaknya juga merokok? Asapnya bikin batuk- batuk saja.
Jujur saja, setiap aku bangun tidur pagi- pagi, bukan syukur yang aku panjatkan kepada Yang Maha Esa. Tapi suatu keluhan “kenapa aku masih hidup”. Aku tahu aku kedengaran seperti manusia biadab, dan hebat kan Yang Maha Esa itu? Dia sabar sekali menghadapi ke-biadab-an manusianya yang satu ini. Orang- orang juga sering menyemangatiku dengan kata- kata seperti “jangan menyerah, pikirkan masa depanmu”. Aku hanya bisa mengangguk dan fake a smile. Aku juga masih ingin punya keluarga suatu hari nanti. Pulang kerja ditungguin istri dan anakku dirumah. Tapi aku merasa sangat amat tidak pantas. Toh waktu aku menghabiskan 3 bungkus rokok dalam sehari, tidak pernah aku memikirkan tentang hal itu. Sekarang saat aku tersiksa seperti ini baru mau berpikir seperti itu? I think its just too late.
Aku bukannya mau menyerah gitu aja. Tapi kalau kamu udah sampai di tahap pada saat semua obat- obatan, dari obat yang masih terlihat normal dan ada mereknya sampai obat yang sudah untitled dan rasanya indescribable, kamu pasti kepingin mati saja. Terlambat untuk terapi photodynamic dan kemoterapi namun terlalu berbahaya untuk menjalankan operasi. Makanya obat- obatan itulah yang bisa aku andalkan untuk mencegah penyebaran penyakitku ini. Kalau kanker ini akhirnya sampai juga ke tujuannya yaitu paru- paruku, yasudahlah, waktuku sudah dekat. Akhirnya?
Sumpah, hidup ini jadi nggak enak banget. Di masa- masa ‘kesenanganku’, tiap aku menghisap asap penyebab penyakitku ini, aku berpikir “halahh kalau aku sakit, banyak teknologi diluar sana yang bakalan menolongku” atau “jaman sekarang banyak mahasiswa- mahasiswi yang siap ber-jas putih untuk menyembuhkanku”. NGGAK WOY.  INI HIDUP LO BUKAN HIDUP ORANG- ORANG BERJAS PUTIH ITU! Kalau saja aku bisa kembali ke masa itu, pengen aku maki dan jambak- jambak rambutku sendiri.
Inti ceritaku hari ini, aku benar- benar menyesal. Mungkin hari ini adalah salah satu hari dimana aku merasa benar- benar telah kehilangan segala kesempatan untuk bahagia. Jadi tadi aku diajak mamaku pergi ke suatu tempat rehabilitasi. Katanya temannya mau memberikan semacam seminar disana dan aku diajak untuk dijadikan sebagai ‘contoh’. Mungkin sebenarnya untuk memberikan kesaksian, namun karena keadaanku yang berbicara saja seperti berusaha menelan batu, jadi mungkin kata ‘contoh’ lebih tepat untukku. Nggak aku nggak tersinggung. Karena aku sudah tidak bisa menolong diriku sendiri, tidak ada salahnya aku menolong mereka supaya tidak melakukan kebodohanku yang dulu kan?
Anyways, jadi disana aku bertemu dengan seorang perempuan yang ternyata salah satu dari orang- orang penghuni tempat rehabilitasi itu. Ada yang lain tentangnya. Dia menatapku tidak dengan tatapan jijik atau kasihan. Tapi dengan tatapan aneh yang membuatku ingin merangkulnya dan bilang kata- kata seperti ‘terima kasih’, ‘semua akan baik- baik saja’ dan kata- kata semacam itu. Aku tahu ini aneh. Apa untuk seseorang sepertiku masih ada harapan untuk cinta? Andaikan dulu aku tidak melakukan hal bodoh yang menyebabkan keadaanku yang sekarang. Andaikan aku masih memiliki harapan untuk cinta.

Lomba 'Diary sang Zombigaret'
by : Keisha A Marentek