Ini hari ke-275 semenjak pertama
kali divonis kanker mulut. Hari-hari yang penuh dengan penyiksaan fisik dan
batin karena penyakit sialan ini. “Hidup segan mati tak mau” itulah prinsip
hidupku ini. Makan sudah tak berselera saking perihnya. Hahhh, jangankan makan, berbicara saja sudah seperti orang gagu
rasanya. Malahan orang gagu masih lebih beruntung, karena mereka bisa mengeluarkan
suara tanpa merasakan sakit, walaupun tidak jelas, lah aku? Bersuara sedikit
saja sudah seperih jatuh dari sepeda.
Sampai detik ini, masih aku sesali
perbuatan bodohku dulu. Kanker mulut dan penyiksaan- penyiksaan ini hanya
karena kebiasaan kecilku itu. Walau sebenarnya tidak bisa dibilang kebiasaan
kecil juga karena sungguh rokok itu ‘nagih’. Tapi kalau tahu begini jadinya, harusnya
aku rela dikurung dan diikat di kamar tidurku agar aku berhenti merokok.
Setelah dipikir- pikir, apa enaknya juga merokok? Asapnya bikin batuk- batuk
saja.
Jujur saja, setiap aku bangun
tidur pagi- pagi, bukan syukur yang aku panjatkan kepada Yang Maha Esa. Tapi
suatu keluhan “kenapa aku masih hidup”. Aku tahu aku kedengaran seperti manusia
biadab, dan hebat kan Yang Maha Esa itu? Dia sabar sekali menghadapi
ke-biadab-an manusianya yang satu ini. Orang- orang juga sering menyemangatiku
dengan kata- kata seperti “jangan menyerah, pikirkan masa depanmu”. Aku hanya
bisa mengangguk dan fake a smile. Aku
juga masih ingin punya keluarga suatu hari nanti. Pulang kerja ditungguin istri
dan anakku dirumah. Tapi aku merasa sangat amat tidak pantas. Toh waktu aku menghabiskan 3 bungkus
rokok dalam sehari, tidak pernah aku memikirkan tentang hal itu. Sekarang saat
aku tersiksa seperti ini baru mau berpikir seperti itu? I think its just too late.
Aku bukannya mau menyerah gitu
aja. Tapi kalau kamu udah sampai di tahap pada saat semua obat- obatan, dari
obat yang masih terlihat normal dan ada mereknya sampai obat yang sudah untitled dan rasanya indescribable, kamu pasti kepingin mati
saja. Terlambat untuk terapi photodynamic dan kemoterapi namun terlalu
berbahaya untuk menjalankan operasi. Makanya obat- obatan itulah yang bisa aku
andalkan untuk mencegah penyebaran penyakitku ini. Kalau kanker ini akhirnya
sampai juga ke tujuannya yaitu paru- paruku, yasudahlah, waktuku sudah dekat.
Akhirnya?
Sumpah, hidup ini jadi nggak enak
banget. Di masa- masa ‘kesenanganku’, tiap aku menghisap asap penyebab
penyakitku ini, aku berpikir “halahh kalau aku sakit, banyak teknologi diluar
sana yang bakalan menolongku” atau “jaman sekarang banyak mahasiswa- mahasiswi
yang siap ber-jas putih untuk
menyembuhkanku”. NGGAK WOY. INI
HIDUP LO BUKAN HIDUP ORANG- ORANG BERJAS PUTIH ITU! Kalau saja aku bisa kembali
ke masa itu, pengen aku maki dan jambak- jambak rambutku sendiri.
Inti ceritaku hari ini, aku benar-
benar menyesal. Mungkin hari ini adalah salah satu hari dimana aku merasa
benar- benar telah kehilangan segala kesempatan untuk bahagia. Jadi tadi aku
diajak mamaku pergi ke suatu tempat rehabilitasi. Katanya temannya mau
memberikan semacam seminar disana dan aku diajak untuk dijadikan sebagai
‘contoh’. Mungkin sebenarnya untuk memberikan kesaksian, namun karena keadaanku
yang berbicara saja seperti berusaha menelan batu, jadi mungkin kata ‘contoh’
lebih tepat untukku. Nggak aku nggak tersinggung. Karena aku sudah tidak bisa
menolong diriku sendiri, tidak ada salahnya aku menolong mereka supaya tidak
melakukan kebodohanku yang dulu kan?
Anyways, jadi disana aku bertemu dengan seorang perempuan yang
ternyata salah satu dari orang- orang penghuni tempat rehabilitasi itu. Ada
yang lain tentangnya. Dia menatapku tidak dengan tatapan jijik atau kasihan.
Tapi dengan tatapan aneh yang membuatku ingin merangkulnya dan bilang kata-
kata seperti ‘terima kasih’, ‘semua akan baik- baik saja’ dan kata- kata
semacam itu. Aku tahu ini aneh. Apa untuk seseorang sepertiku masih ada harapan
untuk cinta? Andaikan dulu aku tidak melakukan hal bodoh yang menyebabkan
keadaanku yang sekarang. Andaikan aku masih memiliki harapan untuk cinta.
Lomba 'Diary sang Zombigaret'
by : Keisha A Marentek
